Senin, 05 Oktober 2009
Saat indah bersama mu
Hujan di pagi hari ini,Ku tarik selimut ingin rasanya tidur kembali tetapi dering hp ku berbunyi eh...sms masuk menayakan ke kampus tidak hari?gimana mau ke kampus klo hujan ga berhenti pikir ku dalam hati,ku ambil gelas ku tuangkan air,hujan-hujan gini enakan ngapain ya pikir ku dalam hati.Duduk di meja sambil buka FB siapa tau ada teman yang online.welll....tiba-tiba saja ingat akan dirimu,diriku tersenyum mengingat akan wajah mu yang tersenyum kepada diriku tetapi itu adalah senyum terahkir mu untuk ku,mengingat semua hati ku menangis perih rasa nya hati ku ini kau tinggal kan.Seandainya aku bisa memutar waktu pasti aku putar untuk bertemu dirimu tetapi diriku tidak mampu untuk melakukan nya.Aku ingat pesan terahkirmu untuk ku "jangan pernah lupakan saat-saat indah waktu kita bersama tetapi cobalah untuk mencari pengganti diriku",aku tidak mengerti maksud dari pesan itu tetapi engkau telah pergi untuk selama-lamanya tak akan pernah mungkin kembali.akan ku coba mencari pengganti dirimu tetapi ga akan mungkin melupakan dirimu.aku masih sangat sayang kepadamu,selamat jalan sayang akan aku jaga kenangan indah ini.
Sabtu, 26 September 2009
Remaja Militan, Idaman Umat
Setelah kasus Bom Bali, 12 Oktober 2002, atau satu tahun, satu bulan, dan satu hari setelah tragedi WTC, Islam dan kaum muslimin selalu jadi inceran. Maksudnya jadi target utama untuk dituduh sebagai biang keonaran. Lengkap dengan embel-embel bahwa Islam adalah terorisme, dan kaum muslimin dicap sebagai teroris. Utamanya mereka yang disebut-sebut sebagai kelompok militan. Pokoknya yang suka menumpahkan darah.
Terus, dampaknya juga besar dan luas lho. Saat ini, banyak ortu yang nggak sudi anaknya ikutan aktif dalam kegiatan pengajian. Alasannya, takut anaknya terlibat dalam jaringan terorisme. Maklum, pemberitaan di media massa selalu menyebutkan bahwa orang-orang yang terlibat adalah mereka yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah, juga kelompok al-Qaida pimpinan Usamah bin Laden. Waduh.
Sobat muda muslim, tentu aja ini bikin temen-temen kita yang aktif di pengajian sekolah, kampus, or lingkungan sekitar tempat tinggalnya jadi nggak nyaman. Mereka yang militan dalam bersikap rada risih, soalnya merasa bahwa setiap langkahnya itu selalu diintai dan jadi bahan omongan yang nggak enak.
Bahkan pernah ada seorang teman yang dulunya ahli maksiat, dan sekarang dapet hidayah jadi baik; doi aktif di pengajian dan bahkan semangat banget dalam berdakwah. Eh, nggak tahunya ada yang ngomongin kalo doi itu sesat, dan jangan didekati. Kontan aja ngambek total. Soalnya, waktu doi dulu ahli maksiat nggak ada yang ngelarang dan ngingetin. Eh, sekarang udah benar, malah dicurigai. Hmm.. itu namanya masyarakat yang kejam bin bengis. Dan yang pasti logikanya cekak. Mungkin karena mereka naro otaknya di dengkul kali. He..he.. yang kesinggung jangan marah ya? Anggap aja bukan guyon, tapi beneran. Huahaha�
Tapi terus terang, dengan kondisi ini kita juga jadi sedih. Bukan apa-apa, bagi teman-teman yang masih belum kuat mendapat kecaman dan cibiran dari lingkungan sekitar bisa langsung ambruk. Nggak jarang bagi sebagian besar teman remaja merasa risih kalo dicap militan. Meski secara istilah banyak yang barangkali nggak ngeh dengan artinya, tapi cap ini udah kadung menjadi �monster� yang bikin bulu kuduk berdiri.
Misalnya, ketika ada orang yang getol nyari ilmu, rajin ke masjid, bahkan ada yang keukeuh dengan sikapnya dalam beragama, masyarakat nggak segen untuk ngasih label militan kepada yang bersangkutan. Lengkap dengan cerita seram di baliknya. Gimana nggak, istilah militan selalu berbanding lurus dengan fanatik, mau menang sendiri, hobi menyalahkan orang lain, radikal, keras, dan tentu nggak jauh dari pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, dan penyiksaan bagi para aktivisnya. Glodaks, bukankah itu semua bikin ketar-ketir bagi yang lemah iman?
Sobat muda muslim, Islam merindukan remaja-remaja yang tangguh dan tahan bantingan dalam membela agamanya. Islam butuh remaja yang no compromise terhadap segala budaya dan pemikiran yang merusak ajaran Islam. Semuanya bakalan dilawan dengan penuh keberanian dan semangat tinggi. Ngomong-ngomong, apa sih definisi militan? Yup, itu pertanyaan bagus.
Militan itu adalah...
Kalo kamu mau rajin baca-baca buku or surfing di internet nyari istilah tentang militan, insya Allah bisa kamu dapatkan datanya. Enak kan bisa tambah wawasan? Selain itu, kamu jadi lebih bijak memandang persoalan, utamanya dalam menyikapi istilah militan ini.
Oke deh, jika kamu baca Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakalan menemukan definisi militan. Di situ disebutkan bahwa militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah, dan berhaluan keras. Wah, oke banget kan kalo jadi orang yang militan?
Kalo pengen lebih mantep, ada definisi dari kamus lainnya. Dalam MiriamWebster Dictionary tertulis, bahwa istilah ini termasuk kata sifat, dan kosakata ini dimasukkan ke dalam kamus pertama kali pada abad ke-15. Dalam kamus ini, militan didefinisikan sebagai, �engaged in warfare or combat� (disibukkan dalam peperangan atau pertempuran). Dalam kamus ini juga disebutkan militan adalah menunjukkan sikap yang agresif dan aktif banget.
Hal serupa dijelaskan pula dalam Cambrige International Dictionary, istilah militan sebagai kata sifat didefinisikan sebagai, �active, determined and often willing to use force� (aktif, tekun, dan acapkali sudi untuk menggunakan kekuatannya).
Dan, militan juga didefinisikan sebagai �self-assertive� (ketegasan diri) dan memiliki semangat yang tak pernah henti, seolah ada di mana-mana (WordNet � 1.6, � 1997 Princeton University)
Dari semua definisi yang disebutkan tadi tentunya kamu udah mulai paham. Seterusnya, tentu bisa membedakan, mana yang pantas dan tidak pantas dalam hidup ini. Mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, istilah militan ini bisa diterapkan dalam kasus yang baik-baik. Sebab, militan lebih identik dengan individu atau kelompok yang selalu bergairah, tekun, gigih, punya semangat tinggi, pantang menyerah, tidak mudah untuk putus asa meski banyak rintangan dan hambatan. Bahkan acapkali, rintangan yang ada di hadapannya dianggap sebagai tantangan. Untuk sikap-sikap seperti itu, tentunya juga berlaku umum alias untuk siapa saja dan dari kalangan mana pun; bisa seorang pekerja, seorang pendidik, seorang tentara, pelajar, atau profesi lainnya.
Hanya saja, saat ini istilah militan makin menyempit. Terbukti, saat ini istilah militan �cuma� ditujukan dan selalu identik dengan orang atau kelompok yang kadang diberi label �garis keras�. Ini yang kemudian menempatkan istilah ini tidak pada tempat yang semestinya. Bahkan cenderung dibumbui sinisme kepada individu atau kelompok tertentu.
Ambil contoh kasus penyerangan WTC, Bush langsung menguber kelompok al-Qaida�apa yang disebutnya sebagai militan garis keras, yang dituduhnya sebagai dalang teror terhadap menara kembar yang menjadi simbol kedigdayaan Amrik itu. Kasus Bali dan Makasar juga dihubungkan dengan aktivitas kelompok Islam garis keras, kelompok Islam militan. Wah?
Akibatnya, opini yang terbangun menjadi tidak berimbang, alias njomplang. Walhasil, masyarakat jadi alergi dengan istilah militan. Ya, lain di kamus lain pula dalam pandangan masyarakat. Celakanya, istilah militan dalam pandangan masyarakat yang nampaknya lebih mendominasi pengertian istilah ini. Gaswat banget memang.
Kejamnya masyarakat sekarang
Kadang masyarakat memang kejam. Meski tidak memiliki aturan secara tertulis, tapi tajamnya kecaman bisa berdampak buruk. Remaja militan, dalam kondisi masyarakat yang seperti sekarang ini, seperti sebuah kanker ganas yang harus segera disingkirkan.
Sebuah pengalaman pernah penulis alami. Waktu itu pernah ikut membina teman-teman remaja dalam mengelola organisasi remaja masjid. Saat organisasi itu tumbuh dan semarak dengan berbagai kegiatan; seminar, pengajian, baca al-Quran dan lainnya, anehnya banyak tanggapan miring yang dialamatkan kepada teman-teman remaja masjid. Padahal, sejak maraknya masjid oleh berbagai kegiatan keislaman, banyak remaja berkumpul di masjid. Masjid menjadi lebih berarti. Hanya saja, gara-gara bentuk kegiatan dan pemahaman yang sedikit berbeda dengan yang dipahami selama ini, khususnya oleh pihak DKM, teman-teman remaja langsung dicurigai.
Ini memang aneh, padahal jika �perbedaan� yang menjadi masalah, kan bisa ditempuh dengan jalur dialog. Tul nggak? Nah, yang terjadi justru sebaliknya. Main berangus aja. Secara sepihak lagi. Waduh. Alasannya, aktivitas itu katanya menganggu ketentraman warga. Glodaks! Apa nggak salah?
Justru banyak juga warga masyarakat yang seneng dengan maraknya kegiatan tersebut, lho. Pertanyaannya, apakah karena sedikit perbedaan lalu mengambil jalur keras; diancam dan diberangus? Mbok ya kalo berbeda, misalnya, kan bisa ditegur, bisa diajak dialog. Dan teman remaja diminta untuk menjelaskan tentang pendapatnya itu. Insya Allah bisa dicari titik temu. Sayang, �penyakit� status quo seringkali mengalahkan akal sehat. Akibatnya, bukan saja tamat riwayat organisasi remaja itu, tapi sekaligus memadamkan semangat dan kreativitas remaja masjidnya. Kasihan.
Pandangan masyarakat seperti ini jelas merugikan perjuangan Islam. Bahkan memadamkan semangat yang mulai menyala dalam dada setiap remaja Islam. Padahal, gampang-gampang susah menumbuhkan rasa cinta kepada Islam di kalangan remaja. Eh, yang baru tumbuh malah dibabat. Apa nggak kejam tuh? Anehnya lagi, dalam waktu yang bersamaan, masyarakat seringkali menutup mata, atau tepatnya cuek dengan maraknya remaja yang gaul bebas, kejerat narkoba, bahkan yang doyan berantem antar temannya. Untuk semua itu, nggak ada kampanye dalam rangka menyadarkan mereka. Sebaliknya, malah dibiarkan. Aneh bin ajaib.
Pertanyaannya, kenapa masyarakat bisa seperti itu? Sebab, nggak mungkin dong orang ujug-ujug benci kalo nggak ada alasan yang menurut mereka �wajib� dibenci. Orang yang cinta saja kudu ada alasannya, kenapa ia mencintai. Tul nggak?
Nah, kalo ditelusuri ternyata masyarakat kita mengidap sejenis penyakit Islamophobia, alias ketakutan terhadap Islam. Ambil contoh, ada anak puteri yang �cuma� pakai kerudung ke sekolah aja dicurigai. Lucunya, banyak prasangka yang nggak-nggak di kalangan guru sendiri. Dibilangin ikut aliran ini dan itu. Kalo kebetulan kegiatan remaja masjid sekolah di sekolah umum marak, mereka mulai dimata-matai. Bahkan pihak sekolah nggak segen untuk menghentikan, dengan alasan, ini bukan sekolah agama. Konon kabarnya nggak rela kalo di sekolah umum justru yang maraknya adalah kegiatan keagamaan, khususnya Islam. Walah kok minder jadi muslim ya?
Jangan takut sobat!
Sobat muda muslim, apa nggak kesel bin gondok digituin? Padahal, nggak jarang bahwa yang kita lakuin itu adalah sebagai wujud kecintaan kita kepada Islam. Kita bangga dong bisa menjadikan Islam sebagai identitas kita. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kita remaja muslim. Teman remaja puteri yang rapi berkurudung dan berjilbab, justru karena ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya adalah seorang muslimah yang berusaha untuk menjalankan satu kewajiban dalam ajaran agamanya.
Teman remaja putera yang aktif di kegiatan remaja masjid, pakai baju koko lengkap dengan pecinya, dan getol ngaji, justru secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan, bahwa kamilah pemuda muslim. Simbol-simbol yang dikenakan dan perbuatan yang dilakukan muncul akibat panasnya semangat yang menggelora dalam dada. Mereka, setidaknya ingin menunjukkan; inilah kami, remaja muslim yang mencintai Islam sepenuh hati. Apa itu salah? Apa itu layak untuk dicurigai? Asal!
Kasus �Bom Bali�, dengan tuduhan dialamatkan kepada para aktivis Islam sebagai pelakunya, kian memberikan stigma (noda) dan mengukuhkan semua prasangka yang telah ada. Nyaris semua orang mengarahkan telunjuknya; bahwa Islam itu kejam, bahwa kaum muslimin itu teroris, bahwa orang yang terlibat dalam aktivitas keislaman perlu dicurigai. Celaka dua belas itu namanya!
Sobat muda muslim, jangan takut dicap sebagai remaja militan. Justru kudu bangga. Sebab, remaja militan adalah remaja idaman umat, dambaan Islam. Militansi itu bahkan kudu ditanamkan sejak sekarang. Bukankah Allah Swt. sudah memuji dan memberi kabar gembira kepada mereka yang teguh pendirian dalam berpegang teguh kepada Islam? Firman-Nya: �Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (TQS Fushshilat [41]: 30)
Jadi nggak usah risih, malu, apalagi takut dicap sebagai remaja militan. Mari kita tunjukkan, bahwa kita bisa menjadi remaja militan yang mencintai Islam sepenuh hati kita, dan membelanya dengan penuh keberanian. Ketegasan tidak identik dengan kekerasan. Tapi menunjukkan keyakinan. Kita lahir ke dunia ini dengan berlumur darah, jadi kenapa musti takut mati berlumur darah karena membela Islam? Sobat muda, tetap semangat!?
Terus, dampaknya juga besar dan luas lho. Saat ini, banyak ortu yang nggak sudi anaknya ikutan aktif dalam kegiatan pengajian. Alasannya, takut anaknya terlibat dalam jaringan terorisme. Maklum, pemberitaan di media massa selalu menyebutkan bahwa orang-orang yang terlibat adalah mereka yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah, juga kelompok al-Qaida pimpinan Usamah bin Laden. Waduh.
Sobat muda muslim, tentu aja ini bikin temen-temen kita yang aktif di pengajian sekolah, kampus, or lingkungan sekitar tempat tinggalnya jadi nggak nyaman. Mereka yang militan dalam bersikap rada risih, soalnya merasa bahwa setiap langkahnya itu selalu diintai dan jadi bahan omongan yang nggak enak.
Bahkan pernah ada seorang teman yang dulunya ahli maksiat, dan sekarang dapet hidayah jadi baik; doi aktif di pengajian dan bahkan semangat banget dalam berdakwah. Eh, nggak tahunya ada yang ngomongin kalo doi itu sesat, dan jangan didekati. Kontan aja ngambek total. Soalnya, waktu doi dulu ahli maksiat nggak ada yang ngelarang dan ngingetin. Eh, sekarang udah benar, malah dicurigai. Hmm.. itu namanya masyarakat yang kejam bin bengis. Dan yang pasti logikanya cekak. Mungkin karena mereka naro otaknya di dengkul kali. He..he.. yang kesinggung jangan marah ya? Anggap aja bukan guyon, tapi beneran. Huahaha�
Tapi terus terang, dengan kondisi ini kita juga jadi sedih. Bukan apa-apa, bagi teman-teman yang masih belum kuat mendapat kecaman dan cibiran dari lingkungan sekitar bisa langsung ambruk. Nggak jarang bagi sebagian besar teman remaja merasa risih kalo dicap militan. Meski secara istilah banyak yang barangkali nggak ngeh dengan artinya, tapi cap ini udah kadung menjadi �monster� yang bikin bulu kuduk berdiri.
Misalnya, ketika ada orang yang getol nyari ilmu, rajin ke masjid, bahkan ada yang keukeuh dengan sikapnya dalam beragama, masyarakat nggak segen untuk ngasih label militan kepada yang bersangkutan. Lengkap dengan cerita seram di baliknya. Gimana nggak, istilah militan selalu berbanding lurus dengan fanatik, mau menang sendiri, hobi menyalahkan orang lain, radikal, keras, dan tentu nggak jauh dari pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, dan penyiksaan bagi para aktivisnya. Glodaks, bukankah itu semua bikin ketar-ketir bagi yang lemah iman?
Sobat muda muslim, Islam merindukan remaja-remaja yang tangguh dan tahan bantingan dalam membela agamanya. Islam butuh remaja yang no compromise terhadap segala budaya dan pemikiran yang merusak ajaran Islam. Semuanya bakalan dilawan dengan penuh keberanian dan semangat tinggi. Ngomong-ngomong, apa sih definisi militan? Yup, itu pertanyaan bagus.
Militan itu adalah...
Kalo kamu mau rajin baca-baca buku or surfing di internet nyari istilah tentang militan, insya Allah bisa kamu dapatkan datanya. Enak kan bisa tambah wawasan? Selain itu, kamu jadi lebih bijak memandang persoalan, utamanya dalam menyikapi istilah militan ini.
Oke deh, jika kamu baca Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakalan menemukan definisi militan. Di situ disebutkan bahwa militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah, dan berhaluan keras. Wah, oke banget kan kalo jadi orang yang militan?
Kalo pengen lebih mantep, ada definisi dari kamus lainnya. Dalam MiriamWebster Dictionary tertulis, bahwa istilah ini termasuk kata sifat, dan kosakata ini dimasukkan ke dalam kamus pertama kali pada abad ke-15. Dalam kamus ini, militan didefinisikan sebagai, �engaged in warfare or combat� (disibukkan dalam peperangan atau pertempuran). Dalam kamus ini juga disebutkan militan adalah menunjukkan sikap yang agresif dan aktif banget.
Hal serupa dijelaskan pula dalam Cambrige International Dictionary, istilah militan sebagai kata sifat didefinisikan sebagai, �active, determined and often willing to use force� (aktif, tekun, dan acapkali sudi untuk menggunakan kekuatannya).
Dan, militan juga didefinisikan sebagai �self-assertive� (ketegasan diri) dan memiliki semangat yang tak pernah henti, seolah ada di mana-mana (WordNet � 1.6, � 1997 Princeton University)
Dari semua definisi yang disebutkan tadi tentunya kamu udah mulai paham. Seterusnya, tentu bisa membedakan, mana yang pantas dan tidak pantas dalam hidup ini. Mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, istilah militan ini bisa diterapkan dalam kasus yang baik-baik. Sebab, militan lebih identik dengan individu atau kelompok yang selalu bergairah, tekun, gigih, punya semangat tinggi, pantang menyerah, tidak mudah untuk putus asa meski banyak rintangan dan hambatan. Bahkan acapkali, rintangan yang ada di hadapannya dianggap sebagai tantangan. Untuk sikap-sikap seperti itu, tentunya juga berlaku umum alias untuk siapa saja dan dari kalangan mana pun; bisa seorang pekerja, seorang pendidik, seorang tentara, pelajar, atau profesi lainnya.
Hanya saja, saat ini istilah militan makin menyempit. Terbukti, saat ini istilah militan �cuma� ditujukan dan selalu identik dengan orang atau kelompok yang kadang diberi label �garis keras�. Ini yang kemudian menempatkan istilah ini tidak pada tempat yang semestinya. Bahkan cenderung dibumbui sinisme kepada individu atau kelompok tertentu.
Ambil contoh kasus penyerangan WTC, Bush langsung menguber kelompok al-Qaida�apa yang disebutnya sebagai militan garis keras, yang dituduhnya sebagai dalang teror terhadap menara kembar yang menjadi simbol kedigdayaan Amrik itu. Kasus Bali dan Makasar juga dihubungkan dengan aktivitas kelompok Islam garis keras, kelompok Islam militan. Wah?
Akibatnya, opini yang terbangun menjadi tidak berimbang, alias njomplang. Walhasil, masyarakat jadi alergi dengan istilah militan. Ya, lain di kamus lain pula dalam pandangan masyarakat. Celakanya, istilah militan dalam pandangan masyarakat yang nampaknya lebih mendominasi pengertian istilah ini. Gaswat banget memang.
Kejamnya masyarakat sekarang
Kadang masyarakat memang kejam. Meski tidak memiliki aturan secara tertulis, tapi tajamnya kecaman bisa berdampak buruk. Remaja militan, dalam kondisi masyarakat yang seperti sekarang ini, seperti sebuah kanker ganas yang harus segera disingkirkan.
Sebuah pengalaman pernah penulis alami. Waktu itu pernah ikut membina teman-teman remaja dalam mengelola organisasi remaja masjid. Saat organisasi itu tumbuh dan semarak dengan berbagai kegiatan; seminar, pengajian, baca al-Quran dan lainnya, anehnya banyak tanggapan miring yang dialamatkan kepada teman-teman remaja masjid. Padahal, sejak maraknya masjid oleh berbagai kegiatan keislaman, banyak remaja berkumpul di masjid. Masjid menjadi lebih berarti. Hanya saja, gara-gara bentuk kegiatan dan pemahaman yang sedikit berbeda dengan yang dipahami selama ini, khususnya oleh pihak DKM, teman-teman remaja langsung dicurigai.
Ini memang aneh, padahal jika �perbedaan� yang menjadi masalah, kan bisa ditempuh dengan jalur dialog. Tul nggak? Nah, yang terjadi justru sebaliknya. Main berangus aja. Secara sepihak lagi. Waduh. Alasannya, aktivitas itu katanya menganggu ketentraman warga. Glodaks! Apa nggak salah?
Justru banyak juga warga masyarakat yang seneng dengan maraknya kegiatan tersebut, lho. Pertanyaannya, apakah karena sedikit perbedaan lalu mengambil jalur keras; diancam dan diberangus? Mbok ya kalo berbeda, misalnya, kan bisa ditegur, bisa diajak dialog. Dan teman remaja diminta untuk menjelaskan tentang pendapatnya itu. Insya Allah bisa dicari titik temu. Sayang, �penyakit� status quo seringkali mengalahkan akal sehat. Akibatnya, bukan saja tamat riwayat organisasi remaja itu, tapi sekaligus memadamkan semangat dan kreativitas remaja masjidnya. Kasihan.
Pandangan masyarakat seperti ini jelas merugikan perjuangan Islam. Bahkan memadamkan semangat yang mulai menyala dalam dada setiap remaja Islam. Padahal, gampang-gampang susah menumbuhkan rasa cinta kepada Islam di kalangan remaja. Eh, yang baru tumbuh malah dibabat. Apa nggak kejam tuh? Anehnya lagi, dalam waktu yang bersamaan, masyarakat seringkali menutup mata, atau tepatnya cuek dengan maraknya remaja yang gaul bebas, kejerat narkoba, bahkan yang doyan berantem antar temannya. Untuk semua itu, nggak ada kampanye dalam rangka menyadarkan mereka. Sebaliknya, malah dibiarkan. Aneh bin ajaib.
Pertanyaannya, kenapa masyarakat bisa seperti itu? Sebab, nggak mungkin dong orang ujug-ujug benci kalo nggak ada alasan yang menurut mereka �wajib� dibenci. Orang yang cinta saja kudu ada alasannya, kenapa ia mencintai. Tul nggak?
Nah, kalo ditelusuri ternyata masyarakat kita mengidap sejenis penyakit Islamophobia, alias ketakutan terhadap Islam. Ambil contoh, ada anak puteri yang �cuma� pakai kerudung ke sekolah aja dicurigai. Lucunya, banyak prasangka yang nggak-nggak di kalangan guru sendiri. Dibilangin ikut aliran ini dan itu. Kalo kebetulan kegiatan remaja masjid sekolah di sekolah umum marak, mereka mulai dimata-matai. Bahkan pihak sekolah nggak segen untuk menghentikan, dengan alasan, ini bukan sekolah agama. Konon kabarnya nggak rela kalo di sekolah umum justru yang maraknya adalah kegiatan keagamaan, khususnya Islam. Walah kok minder jadi muslim ya?
Jangan takut sobat!
Sobat muda muslim, apa nggak kesel bin gondok digituin? Padahal, nggak jarang bahwa yang kita lakuin itu adalah sebagai wujud kecintaan kita kepada Islam. Kita bangga dong bisa menjadikan Islam sebagai identitas kita. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kita remaja muslim. Teman remaja puteri yang rapi berkurudung dan berjilbab, justru karena ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya adalah seorang muslimah yang berusaha untuk menjalankan satu kewajiban dalam ajaran agamanya.
Teman remaja putera yang aktif di kegiatan remaja masjid, pakai baju koko lengkap dengan pecinya, dan getol ngaji, justru secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan, bahwa kamilah pemuda muslim. Simbol-simbol yang dikenakan dan perbuatan yang dilakukan muncul akibat panasnya semangat yang menggelora dalam dada. Mereka, setidaknya ingin menunjukkan; inilah kami, remaja muslim yang mencintai Islam sepenuh hati. Apa itu salah? Apa itu layak untuk dicurigai? Asal!
Kasus �Bom Bali�, dengan tuduhan dialamatkan kepada para aktivis Islam sebagai pelakunya, kian memberikan stigma (noda) dan mengukuhkan semua prasangka yang telah ada. Nyaris semua orang mengarahkan telunjuknya; bahwa Islam itu kejam, bahwa kaum muslimin itu teroris, bahwa orang yang terlibat dalam aktivitas keislaman perlu dicurigai. Celaka dua belas itu namanya!
Sobat muda muslim, jangan takut dicap sebagai remaja militan. Justru kudu bangga. Sebab, remaja militan adalah remaja idaman umat, dambaan Islam. Militansi itu bahkan kudu ditanamkan sejak sekarang. Bukankah Allah Swt. sudah memuji dan memberi kabar gembira kepada mereka yang teguh pendirian dalam berpegang teguh kepada Islam? Firman-Nya: �Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (TQS Fushshilat [41]: 30)
Jadi nggak usah risih, malu, apalagi takut dicap sebagai remaja militan. Mari kita tunjukkan, bahwa kita bisa menjadi remaja militan yang mencintai Islam sepenuh hati kita, dan membelanya dengan penuh keberanian. Ketegasan tidak identik dengan kekerasan. Tapi menunjukkan keyakinan. Kita lahir ke dunia ini dengan berlumur darah, jadi kenapa musti takut mati berlumur darah karena membela Islam? Sobat muda, tetap semangat!?
sumber http://www.dudung.ne
Jumat, 25 September 2009
KAKA the player football

Nama: Ricardo Izecson dos Santos Leite
Lahir: Brasilia, 22April 1982
Kebangsaan: Brazil
Klub: AC Milan
Tinggi,Berat: 186 cm, 73 kg
Posisi: Gelandang serang (Attacking Midfielder)
Nomor Punggung: 22
Karir:
1. Tahun 2000-2001 Klub Sao Paolo (27 games, 12 gol)
2. Tahun 2001-2002 Klub Sao Paolo (22 games, 9 gol)
3. Tahun 2002-2003 Klub Sao Paolo (10 games, 2 gol)
4. Tahun 2003-2004 Klub AC Milan (10 games, 14 gol)
5. Tahun 2004-2005 Klub AC Milan (52 games, 9 gol)
6. Tahun 2006-2007 Klub AC Milan (49 games, 19 gol)
7. Tahun 2007-2008 Klub AC Milan (48 games, 18 gol)
8. Tahun 2007-2008 Klub AC Milan (1 games, 2 gol)
9. Tahun 2002-sekarang Tim Nasional Brazil (52 games, 15 gol)
Prestasi:
1. Tahun 2001 Torneio Rio (Sao Paolo)
2. Tahun 2002 Supercampeonato Paulista (Sao Paolo)
3. Tahun 2003 European Super Cup
4. Tahun 2004 Juara ke-2 Intercontiental Cup (AC Milan),Juara seri A (AC Milan)
Runner Up Liga Champion UEFA, 2004-2005
Juara Liga Champion UEFA, 2006-2007
Prestasi Nasional (Brazil) :
Juara FIFA World Cup, 2002
Runner Up CONCACAF Gold Cup, 2003
Juara Piala Konfederasi, 2005
Prestasi Pribadi :
Golden Ball (Pemain Terbaik Liga Brasil) dan Silver Ball (Pemain Terbaik untuk Gelandang Serang), 2002
Pemain terbak ke-11 CONCACAF Gold Cup, 2003
Pemain Tengah (Midfielder) Terbaik versi UEFA Club Football, 2004-2005
Pemain Terbaik Seri A, 2004 dan 2006
Top Skor Liga Champion UEFA, Pemain Favorit Liga Champion UEFA, Best Forward Liga Champion, dan Pemain Tim Terbaik UEFA, 2006-2007
Ricardo Izecson dos Santos Leite (lahir 22 April 1982 di
Brasília),
lebih dikenal dengan nama Kaká, adalah seorang pemain
sepakbola Brasil yang kini menyertai Kelab AC Milan
(bergabung tahun 2003; sebelumnya pada 2001-2003 di São
Paulo). Kaká umumnya bermain di posisi serangan ataupun
penyerang. Ia dikenal mempunyai dribble yang sangat baik
serta umpan-umpan yang akurat. Tinggi badannya ialah 186
cm.
Kaká menikah dengan Caroline Celico pada 23 Desember
2005 di sebuah gereja di São Paulo, Brasil.
Kaká dilahirkan di Brasília, Brazil pada 22 April 1982,
dia merupakan anak dari pasangan Simone Cristina dos
Santos Leite dan Bosco Izecson Pereira Leite. Kaká
mempunyai adik laki-laki, Rodrigo, yang dikenal sebagai
Digão, yang mengikuti langkahnya bermain bola di Itali.
Nama panggilannya Kaká, diambil dari bahasa aslinya,
Portuguese, yang diucapkan seperti ejaannya, dengan
penekanan pada suku kata kedua yang ditandai dengan
aksen. Itu biasa dipakai untuk menyingkat nama "Ricardo"
di Brazil, bagaimanapun juga, Kaká mendapatkan nama
panggilannya dari adiknya, Rodrigo, yang tidak pandai
menyebut "Ricardo" ketika mereka masih kecil. Rodrigo
memanggil abangnya "Caca" yang kemudian berganti menjadi
"Kaká".
Pada bulan September 2000, di usia 18 tahun, Kaká
mengalami ancaman pada kariernya dan kemungkinan patah
tulang belakang yang menyebabkan lumpuh sebagai akibat
kemalangan di kolam renang. Hal yang terburuk tidak
terjadi dan Kaká pulih sepenuhnya dari insiden itu. Dia
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhannya dan sejak saat
itu ia menyumbangkan penghasilannya untuk gerejanya.
1. Karier
1.2 Karier Kelab
Kaká menandatangani kontrak dengan São Paulo pada usia
15 tahun dan memimpin pasukan junior pada kemenangan
‘Copa de Juvenil’. Ia memulai debutnya di São Paulo FC
tahun 2001 ketika di berusia 18 tahun. Pada musim
Page 1 of 5 on Monday, January 05 2009 @ 20:33:50 MYT.
pertama, dia menyumbat 12 gol dalam 27 perlawanan dan 10
gol dalam 22 perlawanan di musim berikut. Pada usia 17
tahun, ketika ia masih dalam pasukan junior, Sao Paulo
berniat menjual Kaká ke pasukan dari Liga division 1
Turki, Gaziantepspor. Transaksi tidak terjadi, kerana
pengurus Gaziantepspor, Nurullah Sağlam menolak
untuk membayar $1.5 juta untuk pemuda 17 tahun itu.
Setelah menyertai dengan pasukan senior São Paulo FC,
penampilan Kaká berjaya menarik perhatian kelab-kelab di
Eropah.
Dia menyertai AC Milan dengan bayaran US $8.5 juta,
jumlah yang dianggap ‘sedikit’ oleh pemilik kelab Silvio
Berlusconi. Dalam sebulan, dia telah menyertai pasukan
utama dan sejak saat itulah ianya menjadi permulaan pada
kariernya. Kemunculannyanya di Serie A adalah ketika
Milan bertandang menentang Ancona dengan kemenangan 2-0.
Dia menghasilkan 10 gol dalam 30 perlawanan pada musim
itu, AC Milan memenangi Italian Serie A Championship dan
European Super Cup.
Kaká adalah bahagian inti dari lima orang pemain tengah
pada musim 2004-2005, biasa bermain dalam withdrawn role
dibelakang striker Andriy Shevchenko. Dia menyumbat 7
gol dalam 36 pertandingan liga dan juga memenangi
Italian Super Cup bersama dengan klubnya. Milan meraih
posisi kedua setelah Juventus di Seri A dan dalam partai
final dengan Liverpool pada adu penalti di UEFA
Champions League.
Salah satu gol Kaká yang sangat menakjubkan adalah
ketika melawan Fenerbahçe SK di perlawanan pertama AC
Milan dalam 2005-06 Champions League, menentang
Rossoneri dan menang 3-1. Gol itu membuatnya disamakan
dengan Diego Maradona kerana Kaká memulai lariannya dari
tengah lapangan dan melewati tiga tackling sebelum
memasuki kawasan penalti dan menyelesaikannya dengan
shot rendah di bawah penjaga gol Fenerbahçe, Volkan
Demirel.
Pada 9 April 2006, ia membuat hat-trick pertamanya dalam
pertandingan melawan Chievo Verona. Ketiga golnya
dihasilkan pada babak pertama. Pada 2006, Real Madrid
menunjukkan minat pada bintang 24 tahun ini, tetapi
Milan dan Kaká menolak. Kaká telah menandatangani
kontrak dengan Milan hingga 2011.
Pada 1 November 2006, AC Milan lolos babak penyisihan
UEFA Champions League setelah Kaká membuat hat-trick
Page 2 of 5 on Monday, January 05 2009 @ 20:33:50 MYT.
yang membantu teamnya menang 4-1 melawan RSC Anderlecht.
Ini adalah hat-trick keduanya di Milan dan hat-trick
pertamanya di peringkat Eropah.
1.3. Karier antarabangsa
Kaká melakukan debut antarabangsanya pada bulan Januari
2002 dalam perlawanan menentang Bolivia. Dia adalah
bahagian dari pasukan negara yang menang pada Piala
Dunia 2002 tetapi aksinya tidak terlalu kelihatan kerana
hanya bermain 19 minit di babak pertama menentang Costa
Rica. Pada tahun 2003, dia menjadi ketua pasukan dalam
Tournament Gold Cup di AS dan Mexico, memimpin Brazil ke
tangga kedua dan membuat gol yang menentukan dalam
perlawanan menentang Colombia. Setelah itu, dia beraksi
di Confederation Cup 2005, dengan Kaká mencipta gol
kemenangan dalam perlawanan akhir menentang Argentina.
Dia berhasil mendapat tempat ke-10 dalam undian
penghargaan untuk FIFA World Player of the Year 2004.
Pada pemilihan tahun 2005, dia naik dua peringkat lebih
tinggi. Terakhir, ia membantu Brazil dalam penyertaan
pada Piala Dunia 2006. Kaká semakin matang sebagai
pemain dan dianggap sebagai salah satu pemain bolasepak
terbaik dari Brazil. Dia mencatatkan gol pertama Brazil
di Piala Dunia 2006 pada perlawanan menentang Croatia
pada 13 Jun 2006. Pada 3 September 2006 dia
menyumbangkan salah satu gol tercantik untuk pasukan
Brazil setelah melakukan umpan yang membuahkan gol
kepada pemain yang baru masuk, Elano. Kaká mendapat bola
dari pantulan corner kick Argentina, dan mengambil bola
dari ¾ lapangan lalu menyumbat gol. Pada 15 November
2006, Kaká dipilih sebagai ketua pasukan Brazil dalam
perlawanan persahabatan menentang Switzerland kerana
ketiadaan ketua pasukan Brazil sebelumnya, Lucio
disebabkan oleh kecederaan.
1.4. Piala Dunia 2006
Pada pertandingan pertama Brazil dalam Kumpulan F, Kaká
menyumbat gol di minit ke-44 saat melawan Croatia.
Sepakan kaki kiri dari jarak 25 meter membuat Brazil
meraih kemenangan 1-0. Media menganggap Kaká sebagai
satu-satunya anggota dari "magic quintet" – Adriano,
Kaká, Ronaldo, Robinho dan Ronaldinho –yang dihasilkan
dalam perlawanan itu. Dan juga ketika melawan Ghana dia
mencatatkan dirinya dalam sejarah dengan mengumpan
kepada Ronaldo, yang akhirnya menghasilkan gol sehingga
Ronaldo memecahkan rekor Gerd Müller, gol terbanyak di
Piala Dunia. Kaká ternyata tidak dapat meneruskan
Page 3 of 5 on Monday, January 05 2009 @ 20:33:50 MYT.
peluang ke perlawanan selanjutnya dan Brazil dikalahkan
oleh Perancis di quarter final.
Kehidupan peribadi
Kaká berkahwin dengan Caroline Celico di Gereja pada 23
Desember 2005, dua tahun setelah perpindahan Kaká dari
Sao Paulo ke Milan. Caroline dilahirkan pada 26 Juli
1987, anak dari Rosangela Lyra, direktor Dior di Brazil
dan Celso Celico, seorang pengusaha. Dia dan Kaká
bertemu pada tahun 2001 ketika ia masih seorang menjadi
seorang siswi dan Kaká masih bermain untuk São Paulo
Football Club. Perkahwinannya dihadiri 600 orang,
termasuk rakan-rakannya: Cafu, Ronaldo, Adriano, Dida,
Júlio Baptista dan juga pengurus Brazil, Carlos Alberto
Parreira.
Kaká adalah seorang penganut Kristen yang taat.
Dia dikenali suka memakai Christian gear dari dulu: dia
pernah memakai T-shirt dengan tulisan "I Belong to
Jesus" dalam beberapa pertandingan, seperti saat
meraikan kemenangan Brazil di Piala Dunia 2002, dan
perayaan Scudetto Milan pada Mei 2004. Dia menggunakan
kasut yang ditambah dengan tulisan pada lidah kasutnya.
Tiap kali ia menyumbat gol dia menunjuk dengan
jari-jarinya ke langit sebagai tanda terima kasihnya
kepada Tuhan dan mungkin ini yang pertama bagi seorang
pemain bolasepak yang di levelnya: Dia bangga bahwa dia
masih teruna ketika dia kahwin.(hehehe)
Anda perlu tahu bahwa tidak seperti kebanyakan pemain
bolasepak yang lain, minuman yang disukai Kakà hanyalah
air kosong dimana kebanyakan pemain lebih suka minum
minuman-minuman keras sambil berpesta di bar. Walau
pernah diejek rakan-rakannya, dia tetap berpegang pada
pendiriannya sehingga akhirnya dihormati teman-temannya,
kesukaanya mendengar musik gospel juga aneh di kalangan
pemain yang lain. Dia sangat mengidolakan penyanyi
gospel Brazil, Aline Baros. Hal ini pulalah yang dulu
membuat hubungan Kakà dan Andriy Shevchenko sangat
dekat, Shevchenko juga seorang peribadi religious
sehingga Kakà merasa begitu dekat dengannya, namun
hubungan itu telah terputus setelah Shevchenko pindah ke
Chelsea musim ini, tetapi Kakà masih berhubung dengan
Shevchenko. Kakà sangat menyukai warna putih yang
melambangkan kesucian serta ketulusan. Kakà sangat suka
berdoa, bahkan ia sering mengajak rakan-rakannya turut
berdoa. Kakà termasuk seorang yang menggilai kereta
Ferarri, ia suka dengan modelnya yang sporty dan elegan.
sumber http://www.speedfinger.org/html/
Kamis, 24 September 2009
Umar dan Baitul Maqdis
Ketika akan memasuki Baitul Maqdis, akan disambut oleh pembesar Romawi dan masyarakat banyak, Umar disarankan mengganti pakaianya dengan yang mewah, mengganti ontanya dengan kuda yang gagah, Umar tidak mau bahkan marah seraya mengatakan, “ Kita adalah kaum yang diberikan kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Bila kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”.
Suatu kalimat yang mengandung nilai-nilai keimanan yang sempurna, ketakwaan yang tinggi, akhlak yang agung, yang tidak sembarang orang mampu mengucapkan kalimat yang tegas tersebut, apalagi di zaman sekarang, bujukan meterialis dan kapitalis sangat menggoda.
Umar paham dan tahu bahwa kemuliaan seorang muslim disisi Allah bukan terletak pada pakaian yang indah, rumah yang mewah, harta yang melimpah, memiliki banyak sawah, makanan yang berkuah, sekali lagi bukan itu ! Mulianya seorang muslim disisi Allah terletak pada ketakwaannya, sikap rela sepenuh hati dan mengamalkan secara sempurna ajaran yang mulia (Islam) yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mulia, Allah Yang Maha Agung.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS: Al
Hujuraat/ 49 : 130)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (QS: Al Maa’idah/5: 3).
Siapakah Umar yang telah berkata dengan tegas lagi bijaksana tersebut?
Umar yang dimaksud adalah Umar bin Kaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzaa bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay. Qiyadah (pemimpin) kaum muslimin yang bergelar Amirul Mu’minin, Abu Hafash Al Qurasyi, Al Adawi, Al Faruq.
Umar adalah sahabat Rasulullah saw yang memiliki kedudukan mulia disisinya bahkan pernah didoakan secara khusus. Imam Tirmidzi dan Al Hakim – dia menyatakan bahwa riwayat ini shahih – meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir dia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Andai kata setelahku ada nabi pastilah dia Umar”.
Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw berdoa kepada Allah:
“Ya Allah muliakanlah agama Islam ini dengan Umar ibnu Khaththab”.
(Hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Ath- Thabarani dalam kitabnya Al Awsath dari hadits Abu Bakar, sedangkan dalam kitabnya Al Kabir dari hadits riwayat Tsauban).
Umar juga mertuanya Rasulullah saw, karena anaknya yang bernama Hafshah merupakan istri keempat Rasulullah saw setelah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar Siddiq.
Dalam rangka mengunjungi Baitul Maqdis di Palestina, tempat yang pernah dikunjungi Rasulullah saw dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj pada tahun ke 10 kenabian, Umar bin Khathathab meninggalkan kota Madinah, ibu kota pemerintahan Islam untuk sementara waktu.
Beliau meyerahkan urusan kota Madinah kepada sahabat seperjuangan dalam menegakkan agama Allah di muka bumi, menantu Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib.
Umar pergi ke Baitul Maqdis, Palestina atas usulan Ali bin Abi Thalib setelah menerima surat permohonan damai dari penduduk setempat yang dipimpin Uskup Agung Severinus.
“Pasukan Muslimin sudah bersusah payah menghadapi udara dingin, perang dan sudah lama meninggalkan kampung halaman… Kalau anda datang menemui mereka, kedatangan anda dan pasukan muslimin akan merasa aman, akan merasa sejuk. Semua ini akan membawa perdamaian dan kemenangan”, kata Ali bin Abi Thalib menyampaikan pendapatnya.
Umar berangkat meninggalkan kota Madinah menuju Baitul Maqdis dengan menggunakan unta kelabu, membawa dua buah karung, masing-masing berisi tepung gandum dan kurma, sebuah kirbat di depannya berisi air penuh dan sebuah bokor tempat makanan di belakangnya.
Beliau mengenakan baju gamis tebal terbuat dari kapas bergaris-garis yang sisinya sudah sobek.
Ketika akan sampai di tempat tujuan, Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah, pemimpin kaum muslimin, qiyadah bagi pengikutnya, melangkahkan kaki, mengayunkan tangan sambil menuntun ontanya, pembantunya yang bernama Maisarah duduk dipunggung onta.
Maisarah merasa tidak enak dan agak rikuh ketika Baitul Maqdis sudah ada di depan mata, para pembesar Nashrani dan masyarakat umum sudah siap menyambut kedatangan Umar bin Khaththab, pemimpin kaum muslimin. Umar tetap melanjutkan perjalanannya dan menyuruh pembantunya tetap diatas punggung onta, karena berdasarkan kesepakatan mereka berdua, mereka akan bergantian untuk naik onta dan menuntun onta, ketika akan sampai di tempat tujuan tibalah giliran Umar, beliau konsisten terhadap janji.
Sebagai pemimpin, Umar telah memberikan keteladanan yang agung kepada kaum muslimin terutama para pemimpin yang telah diberikan amanah mengurus umat nabi Muhammad saw, untuk konsisten terhadap janji, tidak “mentang-mentang”, tidak zalim kepada pengikut, pendukung atau pembantunya.
Umar tidak merasa hina menuntun onta dengan pakaian yang sangat sederhana sedangkan pembantunya tetap duduk dipunggung onta. Padahal beliau seorang penguasa kaum muslimin yang kekuasaannya sudah luas, yang terbentang dari Yaman sampai Syam.
Umar telah membuktikan, dengan takwa yang sebenar-benarnya, sikap hidup yang sederhana, jujur dan amanah, ada kepedulian kepada umat, menghargai pengorbanan prajuritnya yang telah berjuang dengan jiwa dan raga. Sehingga Umar dihormati oleh pengikutnya dan disegani oleh lawannya.
Kisah Umar bin Khaththab ke Baitul Maqdis telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada kita, bagaimana seharusnya menjadi pemimpin umat,
Semoga kita dapat masuk Baitul Maqdis dan membantu rakyat Palestina agar lepas dari belenggu penjajah Zionis Israel.
H. Ferry Nur, S.Si
di kutip dari eramuslim.com edisi sabtu,25 oktober 2008.
Suatu kalimat yang mengandung nilai-nilai keimanan yang sempurna, ketakwaan yang tinggi, akhlak yang agung, yang tidak sembarang orang mampu mengucapkan kalimat yang tegas tersebut, apalagi di zaman sekarang, bujukan meterialis dan kapitalis sangat menggoda.
Umar paham dan tahu bahwa kemuliaan seorang muslim disisi Allah bukan terletak pada pakaian yang indah, rumah yang mewah, harta yang melimpah, memiliki banyak sawah, makanan yang berkuah, sekali lagi bukan itu ! Mulianya seorang muslim disisi Allah terletak pada ketakwaannya, sikap rela sepenuh hati dan mengamalkan secara sempurna ajaran yang mulia (Islam) yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mulia, Allah Yang Maha Agung.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS: Al
Hujuraat/ 49 : 130)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (QS: Al Maa’idah/5: 3).
Siapakah Umar yang telah berkata dengan tegas lagi bijaksana tersebut?
Umar yang dimaksud adalah Umar bin Kaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzaa bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay. Qiyadah (pemimpin) kaum muslimin yang bergelar Amirul Mu’minin, Abu Hafash Al Qurasyi, Al Adawi, Al Faruq.
Umar adalah sahabat Rasulullah saw yang memiliki kedudukan mulia disisinya bahkan pernah didoakan secara khusus. Imam Tirmidzi dan Al Hakim – dia menyatakan bahwa riwayat ini shahih – meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir dia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Andai kata setelahku ada nabi pastilah dia Umar”.
Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw berdoa kepada Allah:
“Ya Allah muliakanlah agama Islam ini dengan Umar ibnu Khaththab”.
(Hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Ath- Thabarani dalam kitabnya Al Awsath dari hadits Abu Bakar, sedangkan dalam kitabnya Al Kabir dari hadits riwayat Tsauban).
Umar juga mertuanya Rasulullah saw, karena anaknya yang bernama Hafshah merupakan istri keempat Rasulullah saw setelah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar Siddiq.
Dalam rangka mengunjungi Baitul Maqdis di Palestina, tempat yang pernah dikunjungi Rasulullah saw dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj pada tahun ke 10 kenabian, Umar bin Khathathab meninggalkan kota Madinah, ibu kota pemerintahan Islam untuk sementara waktu.
Beliau meyerahkan urusan kota Madinah kepada sahabat seperjuangan dalam menegakkan agama Allah di muka bumi, menantu Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib.
Umar pergi ke Baitul Maqdis, Palestina atas usulan Ali bin Abi Thalib setelah menerima surat permohonan damai dari penduduk setempat yang dipimpin Uskup Agung Severinus.
“Pasukan Muslimin sudah bersusah payah menghadapi udara dingin, perang dan sudah lama meninggalkan kampung halaman… Kalau anda datang menemui mereka, kedatangan anda dan pasukan muslimin akan merasa aman, akan merasa sejuk. Semua ini akan membawa perdamaian dan kemenangan”, kata Ali bin Abi Thalib menyampaikan pendapatnya.
Umar berangkat meninggalkan kota Madinah menuju Baitul Maqdis dengan menggunakan unta kelabu, membawa dua buah karung, masing-masing berisi tepung gandum dan kurma, sebuah kirbat di depannya berisi air penuh dan sebuah bokor tempat makanan di belakangnya.
Beliau mengenakan baju gamis tebal terbuat dari kapas bergaris-garis yang sisinya sudah sobek.
Ketika akan sampai di tempat tujuan, Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah, pemimpin kaum muslimin, qiyadah bagi pengikutnya, melangkahkan kaki, mengayunkan tangan sambil menuntun ontanya, pembantunya yang bernama Maisarah duduk dipunggung onta.
Maisarah merasa tidak enak dan agak rikuh ketika Baitul Maqdis sudah ada di depan mata, para pembesar Nashrani dan masyarakat umum sudah siap menyambut kedatangan Umar bin Khaththab, pemimpin kaum muslimin. Umar tetap melanjutkan perjalanannya dan menyuruh pembantunya tetap diatas punggung onta, karena berdasarkan kesepakatan mereka berdua, mereka akan bergantian untuk naik onta dan menuntun onta, ketika akan sampai di tempat tujuan tibalah giliran Umar, beliau konsisten terhadap janji.
Sebagai pemimpin, Umar telah memberikan keteladanan yang agung kepada kaum muslimin terutama para pemimpin yang telah diberikan amanah mengurus umat nabi Muhammad saw, untuk konsisten terhadap janji, tidak “mentang-mentang”, tidak zalim kepada pengikut, pendukung atau pembantunya.
Umar tidak merasa hina menuntun onta dengan pakaian yang sangat sederhana sedangkan pembantunya tetap duduk dipunggung onta. Padahal beliau seorang penguasa kaum muslimin yang kekuasaannya sudah luas, yang terbentang dari Yaman sampai Syam.
Umar telah membuktikan, dengan takwa yang sebenar-benarnya, sikap hidup yang sederhana, jujur dan amanah, ada kepedulian kepada umat, menghargai pengorbanan prajuritnya yang telah berjuang dengan jiwa dan raga. Sehingga Umar dihormati oleh pengikutnya dan disegani oleh lawannya.
Kisah Umar bin Khaththab ke Baitul Maqdis telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada kita, bagaimana seharusnya menjadi pemimpin umat,
Semoga kita dapat masuk Baitul Maqdis dan membantu rakyat Palestina agar lepas dari belenggu penjajah Zionis Israel.
H. Ferry Nur, S.Si
di kutip dari eramuslim.com edisi sabtu,25 oktober 2008.
Terima Kasih Bunda
Kita semua adalah “anak.”. Meskipun sebagian kita sudah ada yang berkeluarga, menjadi orang tua, atau bahkan sudah ada yang punya cucu, tetapi hal itu tidak bisa menghilangkan hakikat bahwa kita punya atau pernah punya orang tua, ayah bunda kita, artinya kita anak mereka. Suatu hakikat yang tidak bisa kita pungkiri, meskipun juga sebagian orang ada yang tidak tahu siapa ayah dan bunda kandungnya.
Hakikat kita sebagai “anak”, kadang-kadang kita lupa atau melupakannya, bahkan kita ingin melupakannya… Hal itu terlihat dalam ucapan, pikiran dan perbuatan-perbuatan kita suatu saat misalnya, “Aku khan sudah besar??”, “Aku bukan anak-anak lagi tau!!”, “Aku sudah pake saragam putih abu-abu nih!”, ketika misalnya kita mendapat nasehat yang kita rasakan terlalu mendekte baik itu dari orang tua kita atau orang yang lebih tua dari kita, atau dengan perbuatan kita yang tidak mendoakan mereka atau tidak berhubungan dengan mereka bila mereka jauh dari kita.
Ketika kita menjadi orang tua atau sudah punya anak, mungkin kita baru akan tahu, bagaimana sosok orang tua yang kita lupakan, bagaimana perasaan mereka pada anak-anaknya, bagaimana mereka merasakan tanggung jawab yang ada dipundak mereka, sehingga sebesar apapun anak itu, orang tua akan merasa bahwa dia tetap anaknya, masih tetap memberinya nasihat-nasihat yang mungkin dipikir oleh anaknya tidak dibutuhkan lagi, atau mungkin malah tetap memandang anaknya yang sekarang adalah tetap anaknya yang 20 atau 30 tahun yang lalu…
Kembali kepada hakikat bahwa kita sebagai anak, terkadang kita lupa untuk menunaikan kewajiban kita sebagai anak, apalagi yang hidup berjauhan dari orang tua, karena kesibukan kita, karena jarak yang jauh, atau karena sebab lainnya, kita sejenak melupakan bunda atau ayah kita.
Aku yang sejak lulus sekolah dasar hidup berjauhan dengan orang tua, dan hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, sering sekali melupakan keberadaan orang tua dan hakikatnya. Alhamdulillah kahir-akhir ini, aku sering diingatkan isteri tercinta, meskipun tidak dengan kalimat langsung untuk ingat orang tua, tapi dengan keadaannya, yang mengingatkanku kepada orang tua, terutama kepada bunda, iya bundaku.
Artikel ini aku tulis pertama kali pada pertengahan Juli lalu, waktu itu isteriku sedang hamil sekitar empat bulanan (Alhamdulillah sekarang telah melahirkan putri pertama kami). Isteriku yang sebelumnya langsing, tidak punya perut, sekarang perutnya seperti setengah bola… sehingga kalau jalan pun harus pelan-pelan, berat, tidak bisa seenaknya bergerak cepat-cepat atau keras-keras, kadang-kadang (mungkin karena adeknya lagi main-main didalem yah?) tanpa sebab yang jelas tiba-tiba perut terasa sakit, tidak bisa digambarkan sakitnya, kata isteri. Aku yang hanya melihat, seakan-akan ikut merasakan sakitnya, kadang terfikir untuk menggantikan sakitnya, atau paling tidak membagi setengah sakitnya kepadaku.
Ternyata rasa sakit-sakit yang dialami isteriku dan semua ibu-ibu yang sedang mengandung terutama masa-masa hamil muda, belumlah seberapa bila dibandingkan dengan rasa sakit ketika hari-hari akhir menjelang melahirkan, perut yang berkontraksi dengan hebat, bayi yang menendang-nendang ingin keluar, rasanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Aku hanya bisa terdiam sambil sesekali mengelus-elus perut isteriku berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Subhanallah… kata isteriku setelah melahirkan… ternyata rasa sakit ketika kontraksi mau melahirkan, yang sampai membuat isteriku berlinang air mata, tidaklah seberapa dibandingkan rasa sakit ketika kontraksi final waktu sibayi akan lahir… ketika itu nafas harus ditahan, konsentrasi semua tenaga dikeluarkan sekuat-kuatnya sambil hati dan fikiran yang terus berdio’a dan berharap semoga si adik lahir selamat, tidak difikirlan lagi keselamatan dirinya, yang penting si adik bisa selamat…
Dan ternyata lagi… rasa sakit itu belumlah selesai meskipun si adik sudah lahir…
Hari-hari pertama setelah melahirkan, semua badannya merasakan sakit, mulai dari kepala yang sering pusing-pusing, payudara yang mengeras, perut juga sering melilit-lilit dan tentunnya sakit dibagian bawah tubuh yang mengeluarkan bayi…
Payudara yang mengeras bila tidak dikeluarkan air susunya… membuat tubuh menjadi meriang dan demam. Rasa sakit ketika buang air, bekas-bekas jahitan yang belum mengering pedih rasanya bila terkena air.
Keadaan inilah yang mengingatkanku dengan ibunda, pernah sekali isteri mengingatkan hal itu, untuk mengingat bunda di Indonesia, seterusnya aku tidak usah diingatkan, setiap kali melihat keadaan isteri aku jadi ingat juga dengan bunda.
Ya Allah bagaimana bunda dahulu (seperti isteriku juga) ketika tengah mengandungku? Pasti merasakan sakit juga, pasti berat juga jalannya, pasti tidak bisa seenaknya bergerak atau beraktifitas, mungkin juga dulu aku sering nendang-nendang perutnya?? Pasti dulu aku merepotkanmu bunda?
Belum lagi aku bayangkan keadaan bunda ketika melahirkannku… alhamdulillah dengan normal, tapi itu pasti lebih sakit daripada kalau operasi khan? Belum lagi ketika aku bayi, mungkin sering ngompol kalo malam-malam, mengganggu tidur bunda, mungkin sering menangis, membuat bunda sedih, dan banyak hal lagi yang membuat ibu selalu khawatir dan bersedih hati.
Bunda… betapa berat beban yang kau tanggung, untuk membesarkanku.. tapi aku yakin, bahwa bunda pasti melakukan semua itu dengan senang hati, dengan ikhlas tanpa pamrih, dengan penuh kasih sayang, sehingga aku sebesar ini. Yaa Allah sungguh Maha Benar Engkau, yang telah berfirman “kelemahan- di atas kelemahan” QS 31:14.
Sungguah aku anak yang tak tahu diri, kalau melupakan semua itu, melupakan jasa-jasa bundaku, yang membesarkan dan mendidikku, dan tidak membalas jasa-jasanya. Bunda… terimalah maafku, yang kadang melupakanmu, membuatmu khawatir dan bersedih.
Bundaku… terima kasih atas segala sesuatu, yang telah engkau lakukan, yang telah engkau korbankan, untuk menjadikanku menjadi seperti sekarang.
Bundaku… aku sekarang hanya bisa membalas semua budimu… dengan selalu menyertakanmu, dalam do’a-do’aku, dalam munajat-munajatku, semoga Allah membalas semua amal baikmu, semoga Allah menerima semua amal-amalmu, mengampunkan dosa-dosamu, semoga Allah mencintai dan menyayangimu, sebagaimana engkau mencintai dan menyayangi dan mendidikku… yaa Allah terimalah do’aku. Amiin.
Kuwait, Noor aziz
di kutip dari eramuslim.com edisi sabtu,25 oktober 2008
Hakikat kita sebagai “anak”, kadang-kadang kita lupa atau melupakannya, bahkan kita ingin melupakannya… Hal itu terlihat dalam ucapan, pikiran dan perbuatan-perbuatan kita suatu saat misalnya, “Aku khan sudah besar??”, “Aku bukan anak-anak lagi tau!!”, “Aku sudah pake saragam putih abu-abu nih!”, ketika misalnya kita mendapat nasehat yang kita rasakan terlalu mendekte baik itu dari orang tua kita atau orang yang lebih tua dari kita, atau dengan perbuatan kita yang tidak mendoakan mereka atau tidak berhubungan dengan mereka bila mereka jauh dari kita.
Ketika kita menjadi orang tua atau sudah punya anak, mungkin kita baru akan tahu, bagaimana sosok orang tua yang kita lupakan, bagaimana perasaan mereka pada anak-anaknya, bagaimana mereka merasakan tanggung jawab yang ada dipundak mereka, sehingga sebesar apapun anak itu, orang tua akan merasa bahwa dia tetap anaknya, masih tetap memberinya nasihat-nasihat yang mungkin dipikir oleh anaknya tidak dibutuhkan lagi, atau mungkin malah tetap memandang anaknya yang sekarang adalah tetap anaknya yang 20 atau 30 tahun yang lalu…
Kembali kepada hakikat bahwa kita sebagai anak, terkadang kita lupa untuk menunaikan kewajiban kita sebagai anak, apalagi yang hidup berjauhan dari orang tua, karena kesibukan kita, karena jarak yang jauh, atau karena sebab lainnya, kita sejenak melupakan bunda atau ayah kita.
Aku yang sejak lulus sekolah dasar hidup berjauhan dengan orang tua, dan hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, sering sekali melupakan keberadaan orang tua dan hakikatnya. Alhamdulillah kahir-akhir ini, aku sering diingatkan isteri tercinta, meskipun tidak dengan kalimat langsung untuk ingat orang tua, tapi dengan keadaannya, yang mengingatkanku kepada orang tua, terutama kepada bunda, iya bundaku.
Artikel ini aku tulis pertama kali pada pertengahan Juli lalu, waktu itu isteriku sedang hamil sekitar empat bulanan (Alhamdulillah sekarang telah melahirkan putri pertama kami). Isteriku yang sebelumnya langsing, tidak punya perut, sekarang perutnya seperti setengah bola… sehingga kalau jalan pun harus pelan-pelan, berat, tidak bisa seenaknya bergerak cepat-cepat atau keras-keras, kadang-kadang (mungkin karena adeknya lagi main-main didalem yah?) tanpa sebab yang jelas tiba-tiba perut terasa sakit, tidak bisa digambarkan sakitnya, kata isteri. Aku yang hanya melihat, seakan-akan ikut merasakan sakitnya, kadang terfikir untuk menggantikan sakitnya, atau paling tidak membagi setengah sakitnya kepadaku.
Ternyata rasa sakit-sakit yang dialami isteriku dan semua ibu-ibu yang sedang mengandung terutama masa-masa hamil muda, belumlah seberapa bila dibandingkan dengan rasa sakit ketika hari-hari akhir menjelang melahirkan, perut yang berkontraksi dengan hebat, bayi yang menendang-nendang ingin keluar, rasanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Aku hanya bisa terdiam sambil sesekali mengelus-elus perut isteriku berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Subhanallah… kata isteriku setelah melahirkan… ternyata rasa sakit ketika kontraksi mau melahirkan, yang sampai membuat isteriku berlinang air mata, tidaklah seberapa dibandingkan rasa sakit ketika kontraksi final waktu sibayi akan lahir… ketika itu nafas harus ditahan, konsentrasi semua tenaga dikeluarkan sekuat-kuatnya sambil hati dan fikiran yang terus berdio’a dan berharap semoga si adik lahir selamat, tidak difikirlan lagi keselamatan dirinya, yang penting si adik bisa selamat…
Dan ternyata lagi… rasa sakit itu belumlah selesai meskipun si adik sudah lahir…
Hari-hari pertama setelah melahirkan, semua badannya merasakan sakit, mulai dari kepala yang sering pusing-pusing, payudara yang mengeras, perut juga sering melilit-lilit dan tentunnya sakit dibagian bawah tubuh yang mengeluarkan bayi…
Payudara yang mengeras bila tidak dikeluarkan air susunya… membuat tubuh menjadi meriang dan demam. Rasa sakit ketika buang air, bekas-bekas jahitan yang belum mengering pedih rasanya bila terkena air.
Keadaan inilah yang mengingatkanku dengan ibunda, pernah sekali isteri mengingatkan hal itu, untuk mengingat bunda di Indonesia, seterusnya aku tidak usah diingatkan, setiap kali melihat keadaan isteri aku jadi ingat juga dengan bunda.
Ya Allah bagaimana bunda dahulu (seperti isteriku juga) ketika tengah mengandungku? Pasti merasakan sakit juga, pasti berat juga jalannya, pasti tidak bisa seenaknya bergerak atau beraktifitas, mungkin juga dulu aku sering nendang-nendang perutnya?? Pasti dulu aku merepotkanmu bunda?
Belum lagi aku bayangkan keadaan bunda ketika melahirkannku… alhamdulillah dengan normal, tapi itu pasti lebih sakit daripada kalau operasi khan? Belum lagi ketika aku bayi, mungkin sering ngompol kalo malam-malam, mengganggu tidur bunda, mungkin sering menangis, membuat bunda sedih, dan banyak hal lagi yang membuat ibu selalu khawatir dan bersedih hati.
Bunda… betapa berat beban yang kau tanggung, untuk membesarkanku.. tapi aku yakin, bahwa bunda pasti melakukan semua itu dengan senang hati, dengan ikhlas tanpa pamrih, dengan penuh kasih sayang, sehingga aku sebesar ini. Yaa Allah sungguh Maha Benar Engkau, yang telah berfirman “kelemahan- di atas kelemahan” QS 31:14.
Sungguah aku anak yang tak tahu diri, kalau melupakan semua itu, melupakan jasa-jasa bundaku, yang membesarkan dan mendidikku, dan tidak membalas jasa-jasanya. Bunda… terimalah maafku, yang kadang melupakanmu, membuatmu khawatir dan bersedih.
Bundaku… terima kasih atas segala sesuatu, yang telah engkau lakukan, yang telah engkau korbankan, untuk menjadikanku menjadi seperti sekarang.
Bundaku… aku sekarang hanya bisa membalas semua budimu… dengan selalu menyertakanmu, dalam do’a-do’aku, dalam munajat-munajatku, semoga Allah membalas semua amal baikmu, semoga Allah menerima semua amal-amalmu, mengampunkan dosa-dosamu, semoga Allah mencintai dan menyayangimu, sebagaimana engkau mencintai dan menyayangi dan mendidikku… yaa Allah terimalah do’aku. Amiin.
Kuwait, Noor aziz
di kutip dari eramuslim.com edisi sabtu,25 oktober 2008
hy..
salam kenal buat para netter sebelumnya nie..sebanarnya dah lama vakum nie ngenulis di blog tapi ga apa2 coba-coba ngbuat blog nie..bagi temen-teman sesama blogger mohan bantuannya ya,,kritik dan saran sangat di butuhkan oleh gw...salam kenal semua..
Langganan:
Komentar (Atom)

